Validitas

Validitas berkenaan dengan ketepatan alat ukur terhadap konsep yang diukur, sehingga betul‑betul mengukur apa yang seharusnya di­ukur. Sebagai contoh,  ingin mengukur kemampuan siswa da­lam matematika. Kemudian diberikan soal dengan kalimat yang pan­jang dan yang berbelit‑belit sehingga sukar ditangkap maknanya. Akhimya siswa tidak dapat menjawab, akibat tidak memahami per­tanyaannya. Contoh lain, peneliti ingin mengukur kemampuan berbi­cara, tapi ditanya mengenai tata bahasa atau kesusastraan seperti puisi atau sajak. Pengukur tersebut tidak tepat (valid). Validitas tidak berlaku universal sebab bergantung pada situasi dan tujuan pe­nelitian. Instrumen yang telah valid untuk suatu tujuan tertentu belum otomatis akan valid untuk tujuan yang lain.

Contoh variabel prestasi belajar dan motivasi bisa diukur oleh tes ataupun oleh kuesioner. Caranya juga bisa berbeda, tes bisa dilak­sanakan secara tertulis atau bisa secara lisan. Ada tiga jenis validitas yang sering digunakan dalam penyusunan instrumen, yakni validitas isi, validitas bangun pengertian dan validitas ramalan.

 

(a) Validitas isi

Validitas isi berkenaan dengan kesanggupan instrumen mengukur isi yang harus diukur. Artinya, alat ukur tersebut mampu mengungkap isi suatu konsep atau variabel yang hendak diukur. Misalnya tes hasil belajar bidang studi IPS, harus bisa mengungkap isi bidang studi tersebut. Hal ini bisa dilakukan dengan cara menyusun tes yang bersumber dari kurikulum bidang studi yang hendak diukur. Di samping kurikulum dapat juga diperkaya dengan melihat/mengkaji buku sumber. Sungguhpun demikian tes hasil belajar tidak mungkin dapat mengungkap semua materi yang ada dalam bidang studi ter­tentu sekalipun hanya untuk satu semester. Oleh sebab itu harus diambil sebagian dari materi dalam bentuk sampel tes. Sebagai sampel maka harus dapat mencerminkan materi yang terkandung dari seluruh materi bidang studi. Cara Yang ditempuh dalam menetapkan sampel tes adalah memilih konsep‑konsep yang esensial dari materi yang di dalamnya. Misalnya menetapkan sejumlah konsep dari setiap pokok bahasan yang ada. Dari setiap konsep dikem­bangkan beberapa pertanyaan tes (lihat bagan). Di sinilah pen­tingnya peranan kisi‑kisi sebagai alat untuk memenuhi validitas isi.

TES HASIL BELAJAR

Bidang studi     : ………………..

Semester          : ………………..

Kelas                 : ………………..

 

Pokok bahasan untuk satu semester sesuai dengan kurikulum Konsep atau

materi

esensial

Jumlah

perta-

nyaan

 

Jenis tes

abilitas

yang

diakui

Pokok bahasan 1 1.1 ……………… 3 soal pilihan ganda Aplikasi dan seterusnya
Pokok bahasan 2 1.2 ……………… 2 soal Aplikasi dan seterusnya  
Pokok bahasan 2 2.1 ……………… 2 soal    
  2.2 ……………… 3 soal    
Pokok bahasan 3 3.1 ……………… 3 soal    
  3.2 ……………… 2 soal    
  dan seterusnya      

Dalam hal tertentu tes yang telah disusun sesuai dengan kurikulum (materi dan tujuannya) agar memenuhi validitas isi, peneliti atau pemakai tes dapat meminta bantuan ahli bidang studi untuk mene­laah apakah konsep materi yang diajukan telah memadai atau tidak, sebagai sampel tes. Dengan demikian validitas isi tidak memerlukan uji coba dan analisis statistik atau dinyatakan dalam bentuk angka­-angka.

Reliabilitas Skor Tes

Tujuan utama menghitung reliabilitas skor tes adalah untuk mengetahui tingkat ketepatan (precision) dan keajegan (consistency) skor tes. Indeks reliabilitas berkisar antara 0 – 1. Semakin tinggi koefisien reliabilitas suatu tes (mendekati 1), makin tinggi pula keajegan/ketepatannya.

 

Tes yang memiliki konsistensi reliabilitas tinggi adalah akurat, reproducibel, dan generalized terhadap kesempatan testing dan instrumen tes lainnya. Secara rinci faktor yang mempengaruhi reliabilitas skor tes di antaranya:

1)         Semakin banyak jumlah butir soal, semakin ajek suatu tes.

2)         Semakin lama waktu tes, semakin ajek.

3)         Semakin sempit range kesukaran butir soal, semakin besar keajegan.

4)         Soal-soal yang saling berhubungan akan mengurangi keajegan.

5)         Semakin objektif pemberian skor, semakin besar keajegan.

6)         Ketidaktepatan pemberian skor.

7)         Menjawab besar soal dengan cara menebak.

8)         Semakin homogen materi semakin besar keajegan.

9)         Pengalaman peserta ujlan.

10)    Salah penafsiran terhadap butir soal.

11)    Menjawab soal dengan buru-buru/cepat.

12)    Kesiapan mental peserta ujian.

13)    Adanya gangguan dalam pelaksanaan tes.

14)    Jarak antara tes pertama dengan tes kedua.

15)    Mencontek dalam mengerjakan tes.

16)    Posisi individu dalam belajar.

17)    Kondisi fisik peserta ujian.

selengkapnya silahkan download disini……..Validitas dan reliabilitas